Jumat, 26 April 2013

Jeruk Minum Jeruk

Aku baru saja selesai melakukan satu assesmen untuk program PNPM Peduli. Satu dari sekian banyak ceritaku adalah "Jeruk Minum Jeruk." Bakungin, sebuah desa yang terletak dipinggir Kota Kapuas, ibu kota kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah. Kalau nggak salah, 100 persen penduduknya suku Banjar. Ada tiga ratus kepala keluarga yang mendiami desa itu dan semuanya menerima beras raskin. Yang kumaksud jeruk minum jeruk adalah mereka mendapat pembagian beras padahal mereka petani yang menanam padi dan menghasilkan beras yang kualitasnya jauh lebih baik daripada beras raskin yang mereka terimah. Sebenarnya mereka tidak butuh itu, mereka butuh pupuk untuk sawah mereka yang hasil panennya terus menurun karena tidak bisa membeli pupuk. Seratus persen pendudukanya menanam padi. harga padi yang sangat rendah dan harga pupuk yang selangit membuat mereka "malas" menanam padi. Meraka hanya menanam untuk memenuhi kebutuhan makan selama 12 bulan, kalau butuh rupiah mereka menjual sedikit persediaan padi mereka dan kemudian harus mengencangkan ikat pinggang alis berhemat karena jatah beras telah berkurang, dijual untuk kebutuhan lain.

Kembali ke jeruk tadi. Bisa nggak ya, kebijakan itu dirubah berdasarkan kebutuhan masyarakat miskin. jangan semuanya diseragamkan. Penyebab mereka miskin sangat kompleks sehingga penanganannya juga harus multidimensi. Masyarakat Bakungin merasa pemerintah tidak adil. Satu sisi menekan harga padi agar daya beli masyarakat umum membaik, tapi lupa bahwa saat yang sama pemerintah sudah memiskinkan ratusan orang petani di Bakungin dan mungkin ribuan lagi di desa lain. 

Tidak semua orang miskin butuh beras, seperti halnya di Bakungin, mereka lebih butuh pupuk. Tidak heran, bila beras yang meraka terima dijual untuk mendapatkan rupiah. Kalau sudah begii program pemerintah bisa jadi kurang tepat sasaran.




Kamis, 25 April 2013

Permen Persahabatan




Aku harus tergesa-gesa berjalan, bahkan setengah berlari karena petir dan guntur terus mengejarku. Mereka bersahut-sahutan dengan suara yang menggelegar dan sesekali melempar kilat. Langit gelap sejak aku tinggalkan rumah pertanda hujan akan turun, meski sampai aku tiba di jembatan titian ini tidak setetes airpun terjatuh. Itu baik buatku karena aku tidak berniat membuka jas hujan yang kulipat rapi di jok motor matik isteriku yang terpaksa aku tunggangi untuk mengejar waktu. Biasanya aku naik perahu cess. Perahu yang terbuat dari dua lembar papan dan hanya dapat dimuat maksimal 4 orang dewasa. Sangat kecil karena bila ombak cukup besar seluruh penumpang akan basah.

Sejurus kemudian aku sudah ada diatas kayu bulat yang didempetkan, sekilas sedikit mengerikan karena berada diatas air laut yang sedang pasang, sendirian ditengah hutan mangrove dengan langit gelap dan petir menggelegar. Motor hanya sampai disitu saja karena kampong tujuanku kali ini dipisahkan oleh sungai dan hutan mangrove. Mangrove adalah sebutan untuk hutan yang ada di pesisr laut. Jembatan itu tidak panjang, hanya kira-kira dua kali ukuran lapangan bola tapi cukup jauh untuk meniti dua kayu bulat yang tidak kokoh. Aku berlari bukan karena takut, tapi mengejar waktu agar tidak bertemu hujan yang nampaknya tak sabar untuk membasahi bumi.

Aku harus memperhatikan langkahku, tapi  rasa penasaran membuatku selalu melihat ke atas, menyaksikan langit hitam pekat yang dihiasai kilatan-kilatan petir, menjadi pemandangan tersendiri.  Brak! Ups, kakiku menginjak salah satu kayu yang sudah rapuh dan langsung patah. Aku jatuh terduduk dengan satu kaki sudah tercelup air laut. Aku juga tak dapat langsung berdiri karena pahaku sudah terjepit. Sebenarnya aku berharap ada orang lain  melintas, aku tidak berharap untuk ditolong tapi meniti jembatan ini terasa sangat lama, padahal aku sudah berlari-lari kecil.

Aku berhasil menarik kakiku dari air dan berdiri, berniat melanjutkan perjalanan tapi lagi-lagi perhatian teralih pada satu sosok yang menarik. Ya, aku melihat segerombolan kera yang berpelukan karena ketakutan. Rupanya kera-kera itu masih kecil, sepertinya mereka tersesat atau kehilangan induknya. Ah, sayang aku tak membawa kamera tapi sudahlah aku juga tak dapat berbuat apa-apa untuk menenangkan mereka. Aku khawatir mereka tambah takut dengan kehadiranku. Aku melanjutkan langkah kakiku yang sudah mulai melambat, ototku sudah terasa nyeri dan tak dapat megayuh langkaku lebih cepat lagi. nafasku sudah satu-dua, aku putuskan untuk berjalan santai, kalau aku harus kehujanan, ya sudahlah.

Beberapa meter melangkah, aku merasa ada yang mengikutiku, tapi aku tak melihat apa-apa. Penasaran dan bulu kudukku mulai berdiri, aku berhenti dan menoleh. Huh, ternyata seorang anak muncul diujung jembatan. Meskipun kaget, tapi aku senang karena mendapat teman perjalanan. Kelihatannya dia juga memang takut, wajahnya pucat dan nampak sesekali menarik nafas panjang. Sepertinya tadi dia juga berlari untuk sampai dijembatan ini, tidak mau kehujanan seperti diriku.  

Aku berhenti, menunggunya. Aku sudah mempersiapkan kata-kata untuk menyapanya. Khawatir dia takut padaku karena belum kenal. Biasanya, anak-anak yang bertemu orang asing enggan berbicara, bahkan akan menghindar. Aku tak ingin begitu. Hi Dik, nama kamu siapa? Kamu baru pulang sekolah ya? Tinggal dimana? Ya, tiga kalimat tanya itu sudah kususun rapi dan akan kukatakan ketika dia sampai di dekatku. Namun aku kecewa karena tak satu pertanyaannku dia jawab. Dia hanya tertunduk, sambil mempermainkan tali tas sekolahnya. Anak ini rupanya tipe pemalu atau mungkin bisu? Ah sudahlah, dari pada kehujanan aku mempersilahkan dia berjalan duluan.

Aku mengikutinya sampai diujung jembatan dan dia berbelok  kearah kampong yang disebut Salantuko. Ya, satu pertanyaanku terjawab. Dia tinggal di perkampungan itu yang merupakan salah satu lokasi program PNPM Peduli yang aku fasilitasi di Kalimantan Timur.  Namun aku belum tahu namanya. Kami berpisah di persimpangan jalan setapak karena aku akan ke kampong sebelah. Untuk mencapai kampong tersebut biasanya lewat laut karena sedikit terpisah dari darat, dikelilingi hutan mangrove, namun hari ini aku pergi mendadak dan tak ada masyarakat yang dapat menjemputku seperti biasa.

Akses darat sudah ada, namun baru jalan setapak dan jembatan titian dari kayu bulat yang masyarakat terpaksa bangun. Sebelumnya, puluhan anak-anak harus membuka celana dan baju mereka untuk ke sekolah karena tidak ada jembatan. Setiap pagi mereka menempu jalan beberapa kilometer, melewati pematang empang, bila air pasang, seragam merah putih harus dibungkus dan dimasukkan tas agar tidak basah.

Tak lama kemudian, aku sampai di Loktunggul, tujuannya hari ini. Aku langsung ke sebuah rumah tua, sudah reot dan dijadikan secretariat kelompok perempuan yang aku dampingi. Ketua kelompok dan beberapa anggota lainnya sudah menungguku. Setelah beristirahat kamipun berdiskusi, tapi aku masih penasaran dengan teman perjalananku hari ini. Aku menceritakan kejadian itu dan ternyata mereka mengenalnya. Anak itu namanya Yusrandhani, dipanggil Iccang tapi beberapa temannya memanggilnya Yusran. Menurut mereka dia anak yang sejak kecil sudah sakit-sakitan sehingga berbulan-bulan pernah tidak sekolah.

Aku jadi ingat, Pak RT pernah menceritakan hal ini kepada saya tahun lalu. Meskipun anaknya sakit-sakitan, sering tidak masuk sekolah namun bisa mengejar dan mengikuti pelajaran yang tertinggal. Menurut Pak RT kalau sakit, seluruh kaki dan tanganya bersisik. Sudah bolak-balik ke puskesmas tapi tidak sembuh sampai akhirnya orang tuanya membawa ke Sulawesi untuk berobat alternative.

Setelah kejadian itu, kami tidak pernah bertemu lagi ataupun mendengar kabar dari orang yang kutemui. Namun, baru-baru ini setelah enam bulam pertemuan kami terakhir kami bertemu kembali ditempat yang sama. Bedanya jembatan titian sudah diganti dengan jembatan ulin empat meter, diapun sudah memakai sepeda ke sekolah. Namun tetap dengan muka yang pucat dan tidak mau bicara. “Hi, ketemu lagi.” Aku menyapanya dengan percaya diri, aku harus membuatnya berbicara dan memberitahukan sendiri namannya padaku. Dia berhenti, menurunkan satu kakinya dari sepeda. “Nama kamu siapa? Baru pulang sekolah ya?” Ah, rupanya basa basih yang kulempar untuk bekenalan dengannya tak jua membuakan hasil. Aku mengeluarkan permen dari tas kecilku, jurus pamungkas. Aku memang selalu membawa permen bila bepergian ke lapangan. Aku tidak merokok, jadi bila bertemu orang baru aku tidak menawarkan rokok, tapi permen. Permen persahabatan. Dia mengambil satu biji. “Ayo ambil saja semua, Dik.” Dia malu-malu dan tetap tertunduk.” Aku masukkan semua permen yang kugenggam ke saku bajunnya. Baju seragam putih dan celana biru tua itu sudah nampak lusuh dan kotor. Mungkin karena terkena lumpur di jalan. Dia tidak menolak. Sip, ini artinya dia menerimah berpemintaan persahabatanku.

Karena jembatannya baru, banyak ibu-ibu dan anak sekoah yang melintas dari kampung sebelah. Aku tambah penasaran ketika permen kusodorkan tak juga dapat membuatnya bicara. Seorang ibu yang juga anggota kelompok yang kudampingi membantu dengan bahasa mereka. Mereka menggunakan bahasa Mamuju, dari Sulawesi Barat. Meraka datang dan bermukim di daerah tersebut sekitar tahun 70-an.

Anak itu tak juga mengeluarkan suara, hanya mengangguk, tanda dia mau menerima saran ibu tesebut. Kebetulan bahasa daerah mereka aku faham dan dapat menggunakannya. Kufikir dengan menggunakan bahasa mereka, dia akan bicara padaku tapi tetap saja dia membisu. Lagi-lagi ibu tadi membantu  dengan mengatakan bahwa dia memang jarang bicara, apalagi dengan orang baru. Agak lama kami ditempat itu bercakap-cakap sebelum mereka melanjutkan perjalanan.

Tujuan saya hari ini memang hanya untuk mengambil gambar jembatan yang baru selesai dibangun pemerintah setempat, mengganti jembatan titian yang mereka bangun beberapa bulan lalu. Namun, ketika kami mau berpisah jadi teringat dengan kondisi teman baruku itu. Aku terpaksa menahan mereka lagi dan berbicang-bincang tentang perkembangannya. Kebetulan dalam program PNPM Peduli ini kami juga ada aktiftas memfasilitasi kesehatan dasar bagi masyarakat. Melalui program PNPM Peduli kami sudah bekerjasama dengan puskesmas setempat untuk melatih 12 kader kesehatan. Kader kesehatan ini sudah mulai membantu pelayanan petugas puskesmas keliling dua bulan sekali, bahkan rencana berikutnya mereka akan bantu untuk sosialiasi Perilaku  Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada masyarakat setempat.

Yusran ternyata salah satu anak anggota kelompok dampinganku. Dari perbincangan itu kuketahui bila penyakit gatal-gatal yang dideritanya beberapa bulan lalu sudah ada perubahan setelah berobat alternative, meskipun koreng dibagian kaki masih jelas terlihat ketika dia menggunakan celana pendek. Namun sekarang dia sering mengeluh sakit kepala dan deman dimalam hari sehingga sering bolos sekolah. Menurut mereka, Yusran sudah dibawa berobat, namun tetap saja sakit kepala. Dokter yang memeriksanya hanya memberinya obat turun panas.

Rupanya orang tua Yusran tidak puas dengan pengobatan puskesmas setempat. Hal kuketahui ketika pada kesempatan lain saya bertemu dengan Ibu Masba, masih kerabat Yusran yang juga tentangga depan rumah. Hal yang sama juga diuangkapkan salah satu ketua kelompok dampinganku, “Sebenarnya, kami bingung Pak harus bagaimana karena sudah bolak-balik ke puskesmas tapi tidak ada perubahan.” Seluruh masyarakat Bontang bila berobat ke puskesmas dan rumah sakit tidak perlu bayar karena ada jamkesmas untuk masyarakat miskin dan jamkesda untuk masyarakat umum. Namun, kurangnya pehamanan dari sebagian masyarakat menyebabkan mereka malas berobat. Bila sudah berobat lebih dari sekali mereka kemudian berpendapat obat dari dokter tidak manjur. Apalagi bila harus bolak-balik ke kota memerlukan biaya. “Kalau tidak ada perubahan, kenapa tidak periksa darah saja Bu?” Aku memberi saran ketika aku bertemu dengan ibu Yusran tapi dia hanya tersenyum, tersipu-sipu. “Kalau mau ke rumah sakit, kami tidak ada biaya Pak. Apalagi kalau harus bolak-balik.” Lanjutnya.

Letak rumah sakit memang cukup jauh untuk ukuran orang tua Yusran yang hanya buruh harian. Sudah beberapa bulan ini berhenti budidaya rumput laut karena terserang penyakit. Modalnya usaha terpaksa dibelikan sepeda untuk Yusran yang bersekolah diluar kampong. Maklum, belum ada SMP di kampungnya. Dia dan beberapa anak lain dari ampung tersebut sebelumnya harus berjalan kaki, namun dengan adanya jembatan yang dibangun pemerintah setempat sedikit membantu anak sekolah.

“Pak, bagaimana ini. Kami bingung mengatasi penyakit Yusran. Selang beberapa hari, sakit lagi. Apakah Pak Senny bisa bantu cari solusi?” Begitu kira-kira sms yang kuterima dari salah satu ketua kelompk disana. Aku kemudian menelpon ke tentangga Yusran yang biasa menemaninya berobat ke puskesmas. Aku berjanji untuk mencoba membantu setelah ada waktu main ke kampong. Jarak rumahku dan kampong Yusran sebenarnya tidak jauh, hanya butuh waktu satu jam bila cuaca baik, namun aku jarang dirumah. Masih keliling di daerah dampingan lainnya yang tersebar di beberapa lokasi di Kalimantan. Sementara itu, aku menghubungi kader kesehatan setempat dan minta agar Yusran bisa diperiksa  saat puskemas keliling.

Berselang satu bulan kemudian, aku baru punya waktu untuk membayar janji. Lagi-lagi cuaca tidak bersahabat, sementara Yusran tidak dapat kuhubungi, bahkan melalui tentangganya. Sms tidak dibalas, telepon tidak diangkat. Aku putuskan untuk tetap berangkat, aku takut bila ditunda akan timbul masalah. Lagi pula aku sudah janji akan berkunjung ke rumahnya.

Perjalan ke rumah Yusran sediit terhambat karena hujan baru saja redah, jalan sangat becek. Saya harus berhenti di kampong terdekat untuk shalat Jumat, sekalian istirahat. Selesai shalat, aku bersiap melanjutkan perjalan ketika hp saya berbunyi. “Pak, kami sudah di Bontang. Bapak posisi dimana? Kita ketemu dimana?” Sms dari salah satu kerabat Yusran baru masuk. Aku terpaksa kembali ke kota. Aku minta mereka menungguku saja karena sudah terlanjur mau bertemu. Ternyata, dua hari sebelumnya Yusran sakit lagi dan telah berobat di dokter umum di kota sekalian bertemu saya, hanya saja komunikasi tidak berjalan baik.

Setelah bertemu dan mendangar cerita orang tuanya aku akhirnya membuat rencana. Tapi Yusran tetap saja membisu, sama dengan pertemuanku sebelumnya, tidak ada sepatah kata yang meluncur dari mulutnya. Dia nampak lesu, badannya yang kecil, berbeda dengan teman sebaya yang berumur 12 tahun. Dia hanya menekuk kedua kakinya ketika kusapa. Tidak ada senyum yang kuperoleh, tidak ada semangat yang kutangkap dari tatap matanya yang kosong. Sesekali aku mencuri pandang, namun dia tetap menunduk, tak ada suara.  Aku sempat memperhatikan kakinya yang masih sakit, seperti koreng. “Bagaimana sakit gatal-gatal di kakinya Yusran?” Aku memecah keheningan. Beberapa orang tua di rumah itu juga hanya diam, termasuk orang tua Yusran. Mereka sebenarnya ingin mendengar aku lebih banyak bicara, namun saya juga berharap mereka bisa cerita banyak kepada saya tentang kondisi Yusran yang selalu membisu, seribu bahasa.

Melihat kondisi itu, salah satu kerabatnya mencoba bicara kepada Yusran, tapi tetap saja diam. Hu! Repot juga nih. Aku berguman dalam hati. Akhirnya aku coba tanya ke orangtuanya langsung. Penjelasan mereka sama dengan penjelasan yang pernah kuperoleh. Yusran selalu sakit, hanya dua tiga hari sekolah, sakit lagi. Apalagi kalau sudah hujan, jalan becek sehingga ia tidak mampu mengayuh sepedanya. Menurut ibunya, dia tidak sekuat anak laki-laki lain, cepat capek. “Kalau pulang sekolah saya paling kasian Pak. Dia sering ditinggal temannya, dia takut melewati hutan sendirian.” Papar ibunya. “Kadang-kadang menangis sampai di rumah.” Bapaknya juga angkat bicara. Kali ini suasana sudah mulai cair, namun tetap saja dia membisu, diam dan hanya menggerak-gerakan topi ditangannya. Rupanya dia dan orang tuanya bersiap untuk pulang. Mereka datang naik perahu ketinting, sebutan untuk perahu cess di kampong dia.

Ketinting adalah sarana angkutan trasnportasi masyarakat di kampong Yusran. Baru saja bapaknya dan puluhan masyarakat lain mendapat bantuan mesin dari program pemerintah setempat. Tapi hanya sampai dipelabuhan, selanjutnya bila mau ke rumah sakit harus menggunakan angkutan kota.  

Pertemuan ini membuatku sedikit memahami kondisi penyakit Yusran. Aku tahu apa yang selanjutnya harus kulakukan. “Begini saja, bulan depan kita bawa Yusran periksa darah dulu untuk mengetahui penyebab sakit kepalanya.” Rencanaku,  sambil  melakukan komunikasi dengan kader kesehatan di kampong ibu untuk menghubungi pihak puskesmas setempat, aku juga berniat untuk mencari informasi lain, terutama langkah apa yang harus dilakuakn untuk mengetahui penyebab sakit kepalanya. “Buka apa-apa, kalau sudah sakit kepala dia hanya duduk sambil menangis. Bila ditanya, dia tidak menjawab.” Salah satu kerabatnya menambahkan informasi kepada saya.

Akhirnya, waktu yang disepakati tiba juga. Aku sempat ragu apa yang kulakukan, tapi karena banyak yang meminta saya membantu, terpaksa masalah ini tidak saya serahkan ke kader kesehatan. Aku tangani sendiri. Jam delapan pagi aku meluncur ke kampong Yusran. Namun, sebelum sampah ke kampong Yusran, entah mengapa aku tiba-tiba ingin bertemu dengan wali kelasnya. Aku agak khawatir karena sering tidak masuk sekolah dia tidak akan naik ke kelas delapan. Sayangnya, aku tidak bertemu dengannya. Bahkan Yusranpun tidak masuk sekolah hari itu karena sakit. Tapi saya ditemui oleh guru kimia dan guru konseling. Dari mereka aku mendapat cerita tentang bagaimana dia di sekolah. “Sebenarnya dipelajara kimia dia cukup pintar, bahkan bisa mengejar ketertinggalan pelajaran.” Lain halnya informasi yang kuperoleh dari guru lainnya bahwa apabila 16 kali tidak masuk tanpa pemberitahuan makan Yusran tidak dapat naik kelas. Pada semester lalui, satu hari sebelum ujian berakhir, dia tidak masuk, sakit lagi. Bahkan sampai penerimaan raport dia tidak datang untk mengiktui ujian susulan satu bidang studi. “Dia baru saja ambil rapor Pak, setelah libur selesai.” Pangkas salah seorang guru yang menyertai diskusi kami.

Diluar ruang guru aku melihat teman-teman Yusran sedang tidak belajar. Menurut guru mereka baru saja ada sosialiasasi dari bank BPD. Ini kesempatan untuk mencari tahu informasi tentang dia dari teman-temannya. Untungnya teman-temannya sangat ramah dan heboh. Mereka banyak bercerita tentang Yusran. Menurut mereka Yusran memang pendiam, kalau istirahat tidak ikut main seperti anak laki-laki lain. Dia biasanya hanya duduk. Hal yang sama bila pelajaran olahraga, guru meminta dia duduk saja. Tapi di sekolah dia dipanggil dengan nama lengkap, Yusrandani. “Dia anaknya jarang bicara, Om.” Entah siapa namanya berteriak dari belakang. Saat itu aku dikerumuni semua teman sekelasnya yang kebanyakan perempuan. “Kalau ke sekaloh sering diantar sama temannya, soalnya jalan kaki.” Seorang teman dia yang lain menyahut dari belakang. “Bukannya dia naik sepeda dari rumah?” Aku penasaran karena menurut ibunya Yusran naik sepeda ke sekolah dan saya juga pernah bertemu di jembatan, dia naik sepeda. “Kita dilarang pakai sepeda ke sekolah, Om.” Jelas teman lainnya dari sisi depan. Mereka menjelaskan kalau Yusran menyimpan sepeda di kampong tentangga, jarak dari sekolah kira-kira 3-4 km. “Jadi selama ini dia harus jalan kaki separuh jalan ke sekolah ya? Aku melanjutkan bertanya. “ Sebenarnya, Om ada Bis jemputan, tapi hanya sampai jalan aspal, terus Doni sering terlambat, jadi jalan kaki deh.” Sambar temannya yang lain. Yusran di sekolah juga sering dipanggil Doni, mungkin ada anak lain yang memiliki nama yang sama, sehingga selalu dikatakan Yusran Doni ya? Padahal nama yang kubaca di kartu jamkesmasnya adalah Yusrandani. Hal ini kuketahui ketika aku mencari dia di kelasnya.

Mereka juga mengenal Yusran sebagai anak yang baik, dan sebenarnya murah senyum. Mereka berharap, Yusran cepat sembuh dan masuk sekolah lagi. Teman-temannya sangat ramah, membuat saya betah ngobrol dengan mereka, namun saya harus kerumah Yusran untuk mengetahui kondisinya. Tidak perlu waktu lama untuk sampai kerumahnya. Ketika aku sampai, kumendapatinya sedang bermain dengan adiknya yang baru saja pulang sekolah. Sementara dia sendiri hari itu “alpa”, tidak masuk sekolah karena sakit lagi. Menurut ibunya, dalam mimggu itu, hanya satu hari masuk sekolah. “Dia sakit lagi, Pak. Jadi tidak sekolah lagi.” Aku tidak bertemu bapaknya yang sdeang mangambil banmu di kampong tetangga. “Halo, apa kabar? Kamu sakit ya Dik? Tadi saya mapir di sekolah kamu dan bertemu dengan teman sekelas kamu, mereka titip salam.” Dia hanya tersenyum dan kemudian tunduk. Tak lama, dia sudah menghilang dari pandanganku, rupanya dia masuk ke kamar. Dia tinggal dengan kedua orang tuanya di RT. 14 Salantuko Kelurahan Bontang Lestari. Di atas pintu aku melihat papan nama yang bertuliskan KK miskin dan nama kepala keluarga dibawahnya. Memang semua kepala keluarga di kampong itu masuk dalam data KK miskin. Rumahnya seukuran lapangan volley dengan satu kamar. Beberapa foto dan kalender caleg masih terpasang dididing kayu rumah itu. Tidak ada perabotan disana.

Tak lama kemudian, dia keluar lagi karena diminta oleh ibunya. Aku mencoba merayunya agar mau bicara. Aku mengeluarkan beberapa buah permen persahabatan tapi dia biarkan saja. Hari itu, kami sepakat untuk membawa ke rumah sakit, namun harus meminta surat rujukan dari puskesmas. Akupun mencoba menelpon kepala puskesmas setempat untuk memastikan ada dokter disana. “Bapaknya belum tahu kalau mau dibawa ke kota, berobat.” Ibunya mencoba mengingatkan saya. “Baik Bu, saya akan telepon bapak dan minta ijin. Setelah nomornya kusimpan di telepon gemgamku, aku langsung menghubunginya. Tak sulit mendapat ijin karena sebelumnya sudah dibicarakan dan dia juga yang mengusulkan agar anaknya di bawah berobat. “Silahkan saja, Pak. Saya ditempat kerjaan.” Jawabnya singkat ketika kuhubungi.  Tak lama kemudian, Bu Nasba muncul dan sudah siap berangkat, namun ibunya tidak ikut karena harus menjaga anak Bu Nasba. Menurutnya, selama ini Bu Nasba yang selalu mengantar berobat dan Yusran lebih menurut. “Kalau sama saya, dia sering menangis kalau ditanya macam-macam.” Kata ibunya ketika kutanya mengapa bukan dia yang menemani anaknya.

Kami menggunakan dua sepeda motor, aku meminta agar dia bersamaku agar lebih nyaman dan mau bicara padaku. Sedangkan Bu Nasba membawa motor sendiri supaya nanti tidak perlu saya antar pulang lagi. Dalam perjalanan, aku sesekali melempar pertanyaan, namun untuk kesekian kalinya harus kecewa karena tak ada jawaban yang kuperoleh. Tiga puluh menit kemudian, kami sampai di puskesmas dan langsung ke loket pendaftaran. Tidak perlu antri karena sudah siang dan pengujung lebih banyak di pagi hari. Setelah mendaftar kami langsung ke ruang periksa dokter dan mendapat beberapa penjelasan. Aku meminta surat rujukan untuk periksa darah untuk mengetahui penyebab  sakit kepalanya. “oh, tidak perlu, Pak. Disini sudah ada. Puskesmas ini lengkap, bahkan ada rawat inap karena sudah 24 jam.” Sang dokter mudah itu menjelaskan. “Baiklah kalau begitu, terima kasih.” Kamipun menuju ruang lain untuk mengambil sampel darah Yusran. Tak membuthkan waktu lama, namun kami harus menunggu sekitar 30 menit untuk mengetahui hasilnya. “Silahkan Bapak menunggu dulu di luar dan hasilnya nanti bisa dibawa ke dokter untuk konsultasi.” Demikian petugas laboratorium puskesmas itu memberi arahan.  Tidak perlu diminta dua kali, aku langsung mangajak Yusran ke ruang tungga dengan kursi yang berjejer. Kondisi puskesmas yang cukup bersih dan petugas yang ramah membuat kami cukup nyaman dan santai. Kesempatan itu aku gunakan untuk mulai menjajaki keberuntungan bicara dengannya. “Ayo, kita duduk disini saja. Kita harus menunggu hasi pemeriksaan darah. Kalau hasilnya sudah ada, dokter akan memberikan kita penjelasan mengapa Yusran selalu panas dan sakit kepala, bahkan cepat capek, lesuh dan raut wajah yang selalu nampak murung.” Akucoba memberikan penjelasan agar dia juga memiliki pengetahuan. Aku mengajak dia duduk disampingku, cukup dekat untuk bisa mengambil hatinya, namun aku tetap berusaha membuatnya nyaman. Sementara Bu Nasba, kerabatnya yang menemaniku duduk agak jauh untuk memberikan kami kesempatan bicara, dari hati ke hati.

“Kalau besar, kamu mau jadi apa?” Aku membuka percakapan, mencoba keberuntungan. Aku berharap hari ini dia mau bicara atau paling tidak mejawab pertanyaanku. Aku menunggunya, aku tidak terburu-buru untuk menanyakan pertanyaan lainnya.  Aku sudah tahu dia tak akan bicara. Masih belum ada jawaban, dia masih tertunduk. Aku memutar otak, aku coba mengganti topik pembicaraan. Aku memperlihatkan poster yang menempel di dinding. Saya minta dia melihat dan membaca poster itu. Aku lihat dia mengangkat wajahnya dan melihat kearah poster yang kutunjuk. Aku tahu dia menyimak dan mendengar, hanya saja tidak mau bicara. “Kamu suka pelajaran apa?” Tanyaku kembali, aku tidak mau menyerah sampai dia mengeluarkan suaranya. “IPA.” Jawabnya singkat dan hampir tak terdengar. Yes, akhirnya dia bicara juga, meskipun hanya singkat. “ O, IPA ya. “Memangnya cita-cita kamu mau jadi apa?” Aku mulai percaya dia hanya malu-malu. “Guru.” Yes, dia sudah langsung menjawab pertanyaanku, tanpa harus menunggu lama. “Kamu suka olahraga apa?” Kini aku bersemangat, ini kesempatan batinku. “Bulu tangkis.” Jawabnya singkat, namun kali ini suara sudah lebih jelas. “Memangnya kalau main, pake apa?” Aku menanyakan ini karena tidak ada raket yang terlihat saat berkunjung ke rumahnya. “Pake kayu.” Apa, kayu. Mm, aku berguman. Aku mendapat ide untuk membuat dia mau bicara banyak. Dia suka main bulu tangkis, pake kayu. Pasti dia akan senang kalau aku belikan sepasang raket. Aku sangat ingin melihatnya tersenyum, ceria seperti anak lain. Bila pulang sekolah, dia hanya bermain dengan adiknya di rumah. Sekarang dia punya sepeda, sesekali main sepeda.

“Yusrandani.” Terdengar panggilan dari dalam laboratorium, tempat darah Yusran diperiksa. Aku beranjak dan bergegas mengambil secarik kertas yang berisi hasil pemeriksanaan darahnya. Selanjutnya, kami menemui dokter untuk mendapat penjelasan.

“Begini, Pak. Anak ini ada gejala anemia dan  radang. Makanya dia kelihatan lesu. Coba bapak lihat bagian matanya putih tapi tepinya merah, itu salah satu tandanya dia kurang darah. “ Sang dokter mulai memberikan penjelasan. Dia menyebutkan beberapa istilah medis yang saya tidak hafal tapi saya faham maksudnya. Intinya, Yusran kurang makan sayur, sehingga disarankan menkonsumsi sayur yang banyak mengandung zat besi seperti kangkung dan bayam. Selama ini dia hanya suka makan indomie, pantas saja dia juga kena penyakt kulit. Dia alergi dengan makan sejenis itu. Sang dokter kemudian menuliskan resep obat untuk diambil di apotek. “Ini obatnya, kalau masih sakit dalam tiga hari ini silahkan datang kembali.” Akupun pamit setelah merasa cukup mendapat penjelasan dan berharap ada perubahan.

Diluar ruangan aku bertemu dengan kepala puskesmas dan kujelaskan tentang kasus Yusran. Dia menyarankan, bila orangtuanya kesulitan membawa ke puskesmas agar bisa membawa periksa saat pusling. Pusling adalah singkatan dari puskesmas keliling. Ini merupakan program penjangkauan kepada masyarakat di lokasi yang yang jauh atau terisiolasi. “Sekarang pusling sudah dua kali sebulan, Pak. Jadi masyarakat tidak perlu jauh-jauh bila akan memeriksakan kesehatannya.” Bahkan sekarang, ada bantuan alat dari program PNPM Peduli kepada kader kesehatan sehingga petugas kesehatan tidak perlu membawa alat bila melayani masyarakat di kampong. “Alat disana sudah ada, jadi kami hanya membawa obat saja.” Terang kepala puskesmas tersebut.  Saya juga mengutarakan pentingnya peran kader kesehatan untuk memantau dan mengajak masyarakat ke pusling. Bukan hanya mangajak untuk berobat tapi juga untuk berperilaku hidup sehat dan bersih atau PHBS.

“Kami harus pamit dulu, Pak.” Aku harus mengakhiri diskusi dengan kepala puskesmas tersebut karena takut Yusran kelaparan. Maklum, waktu makan siang sudah lewat.

Keluar dari puskesmas aku mencari warung makan, namun kami hanya menemukan warung yang menjual gado-gado. Sambil menunggu makanan disajikan, aku kembali menyerang Yusran dengan pertanyaan. “Yusran suka makan apa?” Aku tahu, dia sudah mau bicara denganku. Benar saja, dia langsung menjawab. Dia ternyata suka makan nasi goreng, bahkan dia sering membuat sendiri di rumah.

Sebenarnya, bukan hanya Yusran yang memiliki kasus sakit kepala. Aku mendapat informasi dari guru Yuran, ada anak dari kampong tentangga yang juga sering mengeluh sakit kepala. Kalau tidak salah namanya Asril. Informasi tersebut dibenarkan Bu Nasbah. “Anak itu bahkan pernah pingsan saat di laut.” Ya, aku bertemu dengannya siang itu, ketika aku akan menjemput Yusran. Dia mengenakan celana panjang berwarna biru. Aku bahkan sempat berbincang dengannnya.”U’deko massikola ne?” Aku menyapanya seperti seorang guru dan dia mau saja menjawab. Kebetulan aku bisa bahasa Mamuju, bahasa yang mereka gunakan sehari-hari. Aku bertanya, kamu tidak sekolah ya? “U’de. Soro’do yaku massikola.” Dia tidak seperti Yusran yang diam seribu bahasa. Temannya ini lebih komunikatif. Dia mengatakan bahwa dia sudah berhenti sekolah. “Kenapa kamu berhenti sekolah?” Saya tertarik mengetahui alasannya. Dia menjelaskan bahwa dia dinyatakan kangker oleh petugas  puskesmas. Tentu jawaban yang aneh bagi saya sehingga saya tidak percaya begitu saja. Bisa jadi, kasus penyakitnya sama dengan Yusran, gejala anemia sehingga sering pingsan dan cepat lelah.  Kalau dugaanku ini benar, maka menjadi indicator bahwa Yusran dan puluhan anak lainnya di kampung itu perlu mendapat perhatian khusus.

Kepala puskesmas setempat yang aku sempat ajak diskusi kasus ini sepakat dan untuk itu pula pelayanan pusling di kampong tersebut ditingkatkan menjadi dua kali sebulan. Saya juga telah mengkomunikasikan hal ini kepada Dinas Kesehatan dan siap bersinergi dengan program PNPM Peduli untuk melakukan edukasi PHBS. Bisa jadi, apa yang dialami Yusran yang didiagnosa mengalami gejala anemia dan gatal-gatal ini karena kurangnya pemahaman PHBS.

Berselang lima hari kemudian aku mendapat kabar kalau Yusran masih sakit kepala pada malam. Bahkan, menjelang sore sampai malam hari demam tinggi. Dia juga mengaku pusing. Aku putuskan untuk kembali membawanya ke puskesmas. Cuaca yang tidak bersahabat menyulitkan rencanaku. Beberapa hari ini selalu hujan, jalan menuju kampungnya tidak dapat dilalui kendaraan. Aku berfikir untuk lewat laut, namun gelombang dan angin kencang juga menjadi penghalang. Mungkin jalan keluarnya harus jalan kaki. Aku tak ingin masalah ini tertunda, aku ingin penanganan segera. Akhirnya tekad sudah bulat, Bu Nasba, tetangga Yusran akan membantu mengantar sampai jalan aspal. Ketika aku telepon bapaknya, Yusran tidak masuk sekolah lagi, katanya akan ke dokter pagi itu. Aku pastikan lagi agar Yusran sudah ijin ke sekolah agar alpa tidak bertambah.  

Sesuai jadual, Yusran sudah tiba di puskesmas sekitar pukul Sembilan pagi. Loket pendaftaran adalah tujuan pertama baru masuk ke ruang dokter. Sayangnya dokter jaganya berbeda, jadi harus menjelaskan ulang lagi kasusnya. Aku protes ketika akan diberi obat lagi dan minta kembali bila masih sakit. “Bu dokter, kami  capek kalau harus bolak-balik. Lagipula, anak ini harus sekolah.” Setiap periksa selalu diberi obat yang sama, penjeasan yang tidak memuaskan karena dokternya ganti. Nampak dokter itu berfikir dan keluar ruangan. Tak lama dia kembali. “Saya rujuk ke poly anak saja ya, Pak.” Akhirnya, dia merujuk juga kasus ini ke rumah sakit. Disana ada dokter spesialis anak dan spesialis lainnya. Sebenarnya ini yang aku minta sebelumnya, namun dokter puskesmas sepertinya masih mau observasi.

“Bu, besok perjalanan kita cukup jauh dan pemeriksaan di rumah sakit butuh waktu satu hari penuh. Saya berharap bisa jam 7 pagi sudah berangkat dari rumah.” Aku coba buat rencana bersama Bu Nasba. “Jadi, Yusran besok ijin lagi ya, Pak.” Minggu lalu, Yusran hanya masuk sekolah dua hari. Minggu ini, senin dan selasa sudah digunakan untuk berobat. Aku sebenarnya kasian juga sama dia, ketinggalan pelajaran. Tapi  harus bagaimana lagi, kami sudah bertekad minimal sampai ditangai dokter spesialis. Harapannya aku dan orang tuanya tahu penyebab sakit kepala dan demamnya. Tapi yang paling penting, tahu apa yang harus dilakaukan selanjutnya agar Yusran bisa tersenyum, bisa sekolah seperti anak lainnya.

Meskipun obat dokter puskesmas belum menyembuhkan  sakit kepala dan deman Yusran, tapi permen persahabatan cukup mujarab untuk membuatnya bicara padaku. Aku lihat dia sudah tidak canggung, begitu datang langsung duduk di dekatku. Ketika kutanya tidak perlu menunggu lama untuk mendapat jawaban, meskipun dengan suara yang masih lirih. Hampir tak terdengar.    

Besok kami akan bersama satu hari penuh di rumah sakit, aku berharap dokter bisa memberi dia “permen” yang mujarab, seperti permen yang kuberikan pada Yursan. Ayo Yusran, jangan menyerah, gapai cita-citamu untuk jadi Guru IPA.  


Kontak Person: Saparuddin (Senny), KBCF,08125516062
Tinggal di Bontang, Kalimantan Timur.

Minggu, 09 September 2012

Ayo Menganyam Rotan



Elly, namanya. Umurnya 72 tahun, karena sudah berumur aku memanggilnya Bu Elly. Kukenal dia dari seorang masyarakat yang aku dampingi. Aku salah satu pendamping masyarakat dalam membudidayakan ikan keramba di Desa Tambak Bajai, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.  Program tersebut salah satu kegiatan PNPM Peduli yang kufasilitasi. Program ini ditujukan kepada kelompok masyarakat adat yang terpencil, tidak terjangkau program pembangunan dan hampir tidak terlihat oleh “kaca mata” pemerintah.
Aku mengenalnya tidak kebetulan, tapi untuk pengembangan program pendampinganku di desa itu. Disana bermukim komunitas Masyarakat Adat Ngaju. Aku ingin membangun mimpi bersama mereka, seperti di kampong lain, dimana aku telah memulainya beberapa tahun lalu. Beberapa mimpi telah diraih, beberapa lainnya masih menggantung di langit. Tidak mudah menggapainya, tapi terasa membanggakan ketika diraih. Sebenarnya, ada 60 orang yang teribat dalam program ini. Hapakat dan  Bina Usaha nama kedua kelompok mereka. Sudah tujuh bulan mereka memelihara ikan sungai itu. Setiap hari mereka bergantian merawat dan memberi pakan. Bahkan mereka patungan membeli pakan di kota, demi sang ikan, harapan mereka.
Seperti di kampong dampinganku lainnya, pengembangan program berdasarkan potensi sumberdaya alam dan keterampilan yang mereka miliki. Di Kalimantan dikenal memiliki hutan, sebelum diserbu tambang dan perkebunan sawit. Seperti  dalam perang Teluk, Amerika melakukan invasi ke Irak. Mereka di serbu dari segala arah, dikepung, sampai tidak berdaya, menyerahkan kebun dan hutan mereka untuk ditambang dan disulap menjadi kebun sawit. Mereka menyerah ditengah ketidakberdayaan. Tidak ada yang mengirimkan bantuan “kemanusiaan” kepada mereka, meski bertahan sampai titik nadir. Mereka terbelenggu kemiskinan, ketidakberdayaan, dan keterisolasian.
Kendati demikian, masih ada sedikit hutan yang tersisa. Mereka masih menyimpan selembar kebun karet dan rotan untuk bertahan hidup. Meskipun “perseteruan” dengan perusahaan sawit tidak terelakkan, namun asap dapur harus tetap mengepul, anak-anak harus mengejar mimpi, orang sakit butuh sentuhan dokter.
Untunglah dalam hutan dan kebun yang tersisa, masih ada sejengkal rotan. Dulu, rotan menjadi andalan komunitas masyarakat adat tersebut. Selain dijual, mereka juga membuat peralatan untuk menunjang kegiatan sehari-hari, seperti; topi, tas, tikar dan lainnya. Sampai pada satu kesempatan, Kemitraan mengundang mereka untuk mengikuti pameran di Semarang. Aku fikir, inilah saatnya untuk mendorong mereka mengembangkan program, bukan hanya budidaya ikan. Kegiatan ini yang membawa saya lebih dekat dengannya.
Melalui Bu Rena, salah satu masyarakat dampinganku, aku mencari orang yang bisa mewakili mereka mengikuti pameran itu. Awalnya dia mengusulkan tantenya yang  dikenal pandai membuat beragam jenis kerajinan  dari rotan. Sayangnya, dia tidak tinggal di desa dampinganku. Seperti sudah diatur, ini awal perkenalanku dengan Bu Elly. Dia terpilih karena ternyata hanya dia yang bisa membuat kerajinan di desa itu. Diapun berangkat ke Semarang. Namun sebelum berangkat dia harus menyiapkan beberapa contoh hasil kerajinan tangannya dan membawa beberapa lembar rotan untuk dia praktikkan dalam pameran.
Aku mendapat kabar, sebelum keberangkatannya bahwa dia sangat senang, bersemangat. Namun, umunrnya hampir senja menjadi penghalang baginya.  Aku takut dia sakit dalam pejalanan yang cukup panjang, apalagi aku tidak bisa menyertainya. Sebenarnya bukan hanya dia yang berangkat,  namun ada yang dari Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Tapi mereka baru akan bergabung dalam tim Kalimantan di Semarang.  Jarak yang jauh dan jaringan komunikasi yang tidak ada menyulitkan mencari solusi. Bahkan mencari  pengganti akan sulit karena tidak ada orang lain yang memiliki keterampilan itu. Aku putuskan membuat beberapa alternative. Pertama, dia berangkat tapi ada yang menemani dari kampung. Kedua dia digantikan orang lain, tapi di Semarang tidak ada praktik membuat kerajinan, hanya membawa hasil yang sudah jadi.
Masalah ini sempat saya “endapkan”, aku pusing. Satu minggu kemudian ketika panitia menghubungi kembali baru kumulai memikirnnya lagi. Untungnya, ada orang desa yang ke kota dan berhasil aku hubungi dengan pesan singkat di hand phone ku. Kuminta dia untuk membicarakan masalah ini di kampong dan memilih alternative yang kubuat.
Dua hari kemudian, mereka menghubungi kembali dan ternyata memilih alternative pertama. Ya, ya. Aku berguman dalam hati. Ini artinya aku harus menghubungi panitia agar bisa menambah satu orang lagi untuk menemani Bu Elly. Kuungkapkan beberapa alasan yang cukup kuat. Syukurlah, usulanku diterimah. Mereka tertarik karena Bu Elly bisa melakukan demo membuat tas dari rotan dalam pameran tersebut. Hore! Aku meloncat kesenangan, Semoga ini awal untuk meraih salah satu mimpiku bersama mereka.
Berselang dua bulan, aku bertemu dan bisa diskusi banyak dengannya. Sebenarnya, sudah beberapa kali aku berkunjung ke desa dia. Mungkin karena selalu bertemu dalam rapat sehingga saya belum mengenalnya.
Selain budidaya ikan, aku berharap mereka juga dapat kembali membuat kerajinan dari rotan. Saat ini untuk menambah pendapatan mungkin belum, karena pesanan hanya sesekali. Padahal, bila pesanan lancer, rupiah yang diperoleh dapat ditabung atau membeli kebutuhan sehari-hari. Bayangkan saja, satu tas bisa dihargai 40 sampai 150 ribu rupiah.
Siang itu, ketika hujan reda, aku berkunjung ke rumahnya. Tidak jauh dari tempat aku biasa menginap bila datang di desa itu. Aku tiba sekitar pukul tiga sore, sehari sebelumnya dan belum sempat berbincang dengannya. Hari kedua di desa itu, hujan turun sejak pagi, memaksa saya untuk tinggal dirumah. Tidak sulit menemukan rumahnya, saat itu dia sedang mengambil air hujan di beberapa baskom yang sempat dia tampung sejak pagi. Air hujan itu salah satu sumber air bersih yang biasa mereka konsumsi. Maklum, air sungai mereka sudah tidak layak untuk diminum, hanya untuk mandi dan mencuci saja.
“Mari masuk, Nak. Maaf, rumahnya berantakan.” Tak perlu dipanngil dua kali, karena ternyata hujan turun lagi. Aku langsung masuk ruang tamu dan dipersilahkan duuduk di sebuah kursi tua, kelihatan lusuh tanpa warna. Di rumahnya yang sudah tua, sedikit reot, sangat jelas tidak ada laki-laki dirumah itu. Namun, perabotan tua dan beberapa foto tua tergantung rapi di dinding yang sudah buram. Di rumah ukuran cukup besar itu, dia tinggal sendiri.
Dia menarik kursi dan duduk di dekatku. “Sebenarnya ibu sudah lama tidak menganyam.” Menganyam adalah istilah yang biasa digunakan untuk membuat kerajinan dari bahan rotan. “Ibu diajak ke Semarang, senang sekali. Sejak pulang, saya berhenti jadi buruh sawit.” Dia dan puluhan perempuan lainnya di desa itu terpaksa menjadi buruh di perkebunan sawit di desa mereka. Upah yang mereka peroleh lumayan untuk menyambung hidup.
Mereka yang menjadi buruh, jam empat subuh sudah harus bangun. Maklum, harus memasak untuk bekal, sarapan dan makan siang. Jam 6 pagi sudah harus ada di lokasi, apel pagi. Jam 14 siang mereka sudah bisa kembali ke rumah, dilanjutkan besok hari. Kalau dihitung, dalam sehari mereka harus bekerja selama enam sampai  delapan jam. Untuk tenaga yang mereka keluarkan dihargai 45 ribu rupiah. Dalam sebulan, mereka bekerja selama 20 hari. Beruntung, bila dalam satu keluarga suami dan isteri bekerja, pendapatan dua kali lipat. Berbeda dengan Bu Elly, dia sebatang kara di desa itu.  Sebenarnya dia punya anak tetapi tinggal di kota.  Dia memilih hidup sendiri dan tidak mau menyusahkan anaknya. Suaminyapun sudah lebih dulu menghadap Sang Pencipta.
            “Kenapa ibu berhenti kerja di sawit, hasilnya lumayan dan sudah pasti dapat duit setiap bulan? Memangnya ibu dapat berapa dari membuat tas rotan ini, Bu? Aku penasaran sehingga terus saja melempar pertanyaan. “Ya, Ibu sudah tua, tidak kuat lagi. Kerja di sawit itu berat, Nak. Memang lumayan, tapi kalau menganyam rotan saya senang, suka. Kalau setiap hari bisa buat satu dan ada yang beli, bisa buat beli lauk dan beras. Tapi, sayangnya hanya sesekali saja ada pesanan.” Aku sempat melihat kerutan dikeningnya dan raut wajahnya yang menyimpan harapan. Seumur dia memang menjadi buruh sangatlah sulit. Berada dibawah terik matahari selama berjam-jam pastilah menguruas tenaga yang besar. Padahal setiap pagi hanya sarapan nasi dan ikan kering, tanpa sayur. Sunggu tidak seimbang.
Dalam perjalanan ke desa itu, aku sempat singgah beberapa saat memperhatikan bagaimana buruh sawit bekerja. Mereka harus memanggul pupuk dan parang, berjalan berkilo-kilo meter sepanjang hari dengan alas kaki seadanya. Aku yang masih mudah merasa tak sanggup menjalani pekerjaan itu. Pantas saja dia memutuskan berhenti dan mencoba kegiatan lain.
“Terus terang, saya sangat senang menganyam, dari mudah dulu.” Dia kembali melanjutkan ceritanya dengan penuh  ekspresi. Tangannya bergerak kesana kemari, seperti sedang memandu sebuah group panduan suara mengiringi hujan rintik-rintih yang enggan berhenti. “Sekarang tinggal saya yang bisa menganyam di kampong ini, anak mudah tidak mau belajar. Repot katanya.” Di desa itu, hanya dia yang memiliki keterampilan menganyam rotan, padahal selain merupakan peluang usaha produktif juga menjadi bagian melestarikan budaya. Nenek ini juga mengaku tidak pernah mengikuti pelatihan khusus, hanya diperoleh dari orang tuannya. Dia menjadi mahir karena dilakukan secara tekun.
Aku melongok keluar jendela, langit masih saja membuang air matanya, menutupi dirinya dengan selimut hitam. Entah sampai kapan akan berhenti. Padahal, malam ini ada hajatan perkawinan di kampong itu. Ramai orang berdatangan hendak menyaksikan perhelatan itu, tidak perdulikan derasnya hujan. Mereka sempat menyapa  Bu Elly. Sejenak suasana hening, sesekali gemuruh dilangit memecah keheningan.  Aku masih berfikir, apa yang harus dilakukan agar keterampilan ini tidak hilang, ditelan zaman. “ Bu, apakah ibu pernah mengajak masyarakat disini untuk mengannyam?” Kupecah keheningan. Entah apa yang difikirkannyanya. Dia sempat termenung.   Rupanya, pertanyaannku membangunkannya dari lamunan. ”Belum, tapi saya mau melatih mereka. Hanya prosesnya agak lama, tidak langsung pintar dan perlu siapkan bahan.” Dia kelihatan semangat menjelaskan, sambil sesekali  berdiri dan memindahan air dari baskom, hasil menampung air hujan.
“Memangnya sulit ya Bu?” Aku bertanya, ingin tahu. “ Ya tergantung, asal mau sabar dan tekun, itu saja kuncinya.Tapi sebelum membuat, perlu siapkan bahan berupa rotan. Rotanya yang muda, dipotong sesuai kebutuhan dan di raut menjadi bagian-bagian kecil menyerupai tali. Lebarnya sekitar satu inci dengan tebal seperti kertas. Kemudian direndam di lumpur untuk memperoleh bahan yang kuat. ” Wah, dia sudah mulai melatih saya nih. Dia tidak berhenti berceloteh sampai hujan berhenti.   
“Bu, hujan sudah berhenti, pamit dulu.” Aku terpaksa mengakhiri perbincangan itu, harus ketemu dengan ketua kelompok dampinganku, Pak Yarno. Dalam perjalananku, aku masih berfikir cara melestarikan budaya menganyam rotan ini. Bu Nelly, satu-satunya orang yang memiliki keterampian itu sudah tua, setelah dia bagaimana? Akan hilang tanpa bekas, tinggal cerita. Wah, gawat nih.
Aku terus berfikir, sampai teringat akan program yang pernah kami buat bersama Bu Rena di Samarinda. Ya, aku ingat sekarang, gagasan itu selain untuk menjajaki peluang usaha baru sekaligus dapat melestarikan budaya menganyam di kampong itu.
Aku tak langsung pulang, rumah dimana aku menginap dan membatalkan bertemu dengan Pak Yarno. Aku langsung ke rumah Bu Rena. Tidak peduli dia sedang sibuk menyiapakna hajatan perkawinanan adik laki-lakinya. Aku tidak mau kehilangan gagasan ini. Untunglah, sebelum aku sampai di rumahnya, aku bertemu di jalan. “Bu Rena mau kemana?” Aku menahannya sejenak untuk berbicara. “Mau ke rumah Bu Elly. Mau ambil pesanan tas Bapak.” Aku memang memasan tas sebagai oleh-oleh. “Tadi saya ke rumah Bu Elly, tapi tasnya belum saya ambil, katanya Bu Rena yang pesan.” Saat aku disana, memang kulihat ada tas kecil yang sedang dikerjakan. Aku memang pesan lewat Bu Rena, sebelum datang ke desa itu. 

“Memangnya ada apa, Pak?” Dia bertanya sambil menyeka keringat diwajahnya, padahal hujan baru saja berhenti, masih terasa dingin. Mungkin karena dia sibuk mengurus persiapan perkawinan. “Kalau mau ke rumah Bu Nelly, sambil jalan saja ya?” Aku menceritakan gagasan yang pernah kami bicarakan dan rencana menjalankannya. Kuceritakan juga hasil perbincaganku dengan Bu Nelly. “Wow, menarik Pak! Kapan kita mulai?”  Ibu ini semangatnya bukan main. “Ikan sepat, ikan gabus. Lebih cepat lebih bagus.” Jarak rumah Bu Rena dan Bu Nelly sekitar seratus meter. Sayangnya, ketika sampai disana Bu Nelly tidak ada di rumah, entah kemana. “ Bagaimana, Pak? Bu Nelly tidak ada.” Tidak ada yang tahu, kemana dia pergi, jadi kami putuskan untuk membahsnya lain waktu saja. Mala mini tidak mungkin karena ada acara, besok pagi sekali saya sudah berangkat ke kecamatan, perjalan pulang. “Bagaimana tas pesanan saya Bu?” Hampir lupa, saya pesana tas untuk oleh-oleh. Sekalian mengganti tas yang kuberikan pada Pak Yarno. Tas kecil itu kunakan untuk menyimpan benda-benda kecil seperti hand phone dan dompet. “Nanti malam akan kami antar Pak.”
Kami kemudian kembali, dia langsung ke rumahnya, sedangkan saya ke rumah Pak Yarno, tempat aku menginap. “Bu Nelly? Tadi kami ke rumah Bu.” Aku kaget, ternyata orang yang dicari ada dirumah Pak Yarno. “Saya antar tas, Nak. Kata Bu Rena, ini pesanannya ya?” AKu lihat sebuah tas anyaman rotan yang cantik, berwarna coklat mudah dengan garis-garis hitam. Sebuah tali dan penuutp melengkapi tas. “Berapa harganya, Bu? Aku harus bertanya karena harga tas berbeda, tergantung ukran dan tingkat kesulitan pembuatannya. “Hanya 75 ribu rupiah saja, Nak.”  Setelah menerima ta situ, dia langsung pulang karena akan ke rumah Bu rena juga seperti yang lain. “Nak, saya permisi dulu. Rencana melatih ibu-ibu disini saya siapa kapan saja.” Dia pamit dengan pesan yang aku fikir sebagai ikrar tanda jadinya program ini. Sebelumnya Bu Rena dan beberapa ibu mudah di desa itu juga mengungapkan ketertarikannya dengan kerajinan itu bila ada yang melatih dan membantu pemasaran.
Malam harinya, aku diundang, hadir di rumah Bu Rena. Setelah acara inti selesai kuputuskan langsung pulang, menyimpan tenaga untuk perjalanan pulang. Badanku sudah ingin diam, istirahat. Kasur dan kelambu sudah disiapkan, ada bantal dan sarung, mengantarkan saya untuk melanjutkan mimpi, mimpi yang akan kubangun bersama Bu Nelly.
Sebelum kembali, aku mampir di kantor kecamatan dan  berdiskusi dengan camat. Kuceritakan tentang rencana Bu Nelly dan masyarakat Desa Tambak Bajai. Kukatakan program Ayo Menganyam Rotan sebenarnya sudah digagas Juli 2012 di Samarinda bersama Bu Rena. Kemudian Bu Nelly melanjutkan gagasan itu dengan keterlibatannya pada pameran di Semarang.  “Kebetulan, tahun ini PKK ada program untuk membuat semacam tempat untuk menampung hasil kerajinan masyarakat di kecamatan Dadahub. Jadi, hasil kerajinan Desa Tambak Bajai bisa dititip di tempat tersebut.” Demikian kata dia mengakhiri perbincangan kami. (sevit)

Jumat, 07 September 2012

Mengembalikan Ikan yang Hilang

Program PNPM Peduli tidak hanya membuka akses komunitas marginal, tapi juga menemukan sejumlah asset mereka yang “hilang”.  Cerita ini kuperoleh saat  berkunjung ke Desa Tambak Bajai, Kalimantan Tengah.

Dari tempatku tinggal, desa ini akan lebih cepat dicapai lewat Banjarmasin dibandingkan Palangkaraya, ibukota propinsi tersebut. Setelah menghabiskan waktu sekitar duabelas  jam, perkampungan tua yang terletak di Kecamatan Dadahub itu berhasil aku capai. Bila dihitung-hitung, ini adalah kunjunganku yang ketiga. Beberapa jalur telah aku coba, sungai Mangkatib yang melintas di desa itu telah kuarungi dengan perahu cess, sebutan untuk perahu kecil di kampung yang dihuni  komunitas masyarakat Dayak Ngaju itu. Perkebunan sawit yang mengepung desa tua itu telah kujelajahi dua kali, sampai mengaruhi kanal-kanal yang berjejer rapi di sepanjang sungai.

Sepanjang jalan, hamparan hutan berganti dengan sawit, tidak ada pohon yang berdiri tegak, menjulang dan menembus awan. Tidak ada burung yang bernyanyi dan monyet yang  menyapa, apalagi orangutan dan banyak lagi satwa penghuni belantara hutan Kalimantan. Ketika menyusuri sungaipun demikian.  Hanya nampak pohon karet yang sudah tua dan beberapa ekor monyet hidung panjang yang mengintip dari balik pepohona yang digantungi rotan.

Nama Desa Tambak Bajai berasal bahasa setempat yang berarti tempat buaya. Desa ini dikenal sebagai perkampungan tua dan menyimpan  cerita dan peristiwa, termasuk cerita tentang Proyek Lahan Gambut (PLG). Proyek orde baru ini telah merampas kemakmuran dan kedamaian masyarakat desa yang hanya berpenghuni tidak lebih  seratus kepala keluarga tersebut.

Kondisi ini mungkin hanya sebagian kecil saja dari banyak peristiwa yang terjadi dalam sepuluh tahun terakhir.  Kekhawatiran dampak “virus mematikan” globalisasi dan modernisasi kini terbukti. Pengaruhnya begitu besar menerobos sampai pedalaman Kalimantan. Kita hampir tidak menyadari, sampai semuanya hilang, pergi dan hanya bisa menjadi cerita bagi anak cucu. Komunitas masyarakat Adat Ngaju yang berada di ujung kabupaten Kapuas ini, dulunya sangat makmur, dikenal sebagai perkampung tua.  Wilayah ini memiliki banyak kearifan lokal untuk melstarikan hutan dan sumberdaya di dalamnya, tempat mereka mengambil rotan dan menorah karet untuk makan dan memenuhi kebuthan hidup sehari-hari lainnya. Mereka hanya mengambil sesuai kebutuhan, mengambil dua batang kayu untuk membangun dan perbaikan rumah, beberapa lembar rotan untuk membuat tas, beberapa tetes karet untuk dijual dan membeli pakaian.

Kini, semua itu tinggal cerita. Hutan yang rimbun telah menjadi hamparan kebun sawit yang tiada batas, perempaun harus memancing ikan kecil di tepi sungai untuk santapan siang keluarga, kebun rotan dan karet sudah terkikis, hampir habis.

Menurut Yarno Abet Nion, salah satu tetua adat, sebelum PLG dan sawit masuk ke desa mereka, ikan di sungai melimpah. Mereka bertahan hidup setahun dari penghasilan menangkap ikan saja. Sekarang jangankan setahun, hanya untuk makan sehari saja mereka haru membeli  15 ribu per kg. Bahkan, untuk mendapatkan ikan sebesar kelingkingpun, ibu-ibu harus berdiri sepanjang pagi untuk memancing. Lebih menyedihkan lagi, sebagian penduduk kini harus membeli ikan asin yang dijual di pasar, seminggu sekali.

Saat aku disana, kulihat seorang ibu berdiri ditepi sungai sambil memegang pancing. Aku coba mendekat pelan-pelan agar tidak mengganggu. Kulihat disampingnya ada ember hitam yang berisi ikan kecil-kecil, sebesar jari telunjuk saya. “Maaf bu, sedang mancing ya?” Aku membuka pembicaraan basa-basi untuk kenalan. Diapun tidak menjawab, mungkin karena malu-malu atau tidak ingin membuat suara agar ikan tidak kabur. Dia hanya mengangguk dan melempar senyum. Aku mengerti isyarat itu. “Ikannya untuk pakan ikan ya,  Bu?” Setelah beberapa saat, aku coba membuka pembicaraan kembali. “Oh tidak, ini untuk makan siang,” jawabnya datar.  Aku tersentak! Aku membayangkan ikan sekecil itu akan menjadi santapan siang keluarga. Di tempatku, ikan sekecil dibuang atau paling tidak hanya menjadi pakan ternak. Ibu yang belakangan kuketahui bernama Bu Santi. Saat bertemu mengenakan daster merah mengaku terpaksa memancing ikan di sungai karena harga ikan sudah tidak terjangkau.

Kesulitan masyarakat mendapatkan ikan bukan hanya dikeluhkan oleh Santi. Pak Yarno, tempat aku menginap juga mengalami hal yang sama. Menurutnya, masyarakat terpaksa makan ikan kecil-kecil karena yang besar sudah tidak ada. “Kami tidak tahu, kemana ikan di desa ini,” kata Yarno, panggilan tetua adat ini. Sebelum proyek PLG dan serangan kebun sawit di desa mereka, ikan bukan masalah. Bahkan mereka menjual sampai keluar desa dan menjadi mata pencaharian utama masyarakat setempat. Yarno dan puluhan masyarakat desa tersebut memiliki teknik menangkap ikan yang unik, beje’ namanya.

Cara membuat beje’ sangat sederhana. Masyarakat menggali lubang seperti sumur atau kolam di kebun karet mereka. Cara kerja metode ini juga cukup mudah, ketika banjir datang atau air sungai meluap sampai menggenangi kebun karet, ikan dari sungai akan naik. Ketika air mulai surut, ikan tersebut akan tinggal pada sumur dan kolam jebakan itu. Sayangnya, saat disana Pak Yarno tidak sempat melihat beje’. Tapi, cerita Pak Yarno sempat mengajak saya ke rumah salah seorang warga yang baru saja panen beje. Aku masih penasaran, seperti apa ikan hasil tangkapaan beje yang diceritakannya. Ketika sampai, kulihat ikan sudah dipisahkan dalam 3 baskom berbeda. “Bu, kenapa ikan-ikan dipisahkan pada tempat berbeda?”  Aku lihat, ikan yang berbeda ukuran itu dipisahkan, tapi ukurannya juga paling besar hanya seperti tiga jari orang dewasa. “Harganya berbeda, Pak.” Menurutnya, ikan itu harganya bervariasi. Mulai dari sepuluh ribu sampai tiga puluh ribu rupiah per kg, tergantung ukuran.

Seorang ibu rumah tangga di desa itu juga sempat berceloteh tentang  kesulitan memperoleh ikan. Mereka harus membeli ikan dari luar desa, sesekali diganti dengan telur ayam. Karena harga ikan sudah mahal, mereka lebih sering mengkonsumsi ikan kering.

Ica, petugas puskesmas pembantu desa itu mengaku, kalau hampir setiap hari masyarakat mengkonsumsi ikan asing. “Keluhan pasien yang saya tangani paling banyak menderita darah tinggi.” Perempuan yang tinggal terpisah dengan keluarganya ini juga menjelaskan kalau sebagian besar pasien yang darah tinggi adalah orang tua.

Sungguh ironi, di sungai yang begitu besar, tapi tidak ada lagi ikan untuk dimakan. Hanya tersisa ikan sebesar kelingking, hanya cukup untuk makan siang. Bahkan menurut Pak Yarno, ada jenis ikan yang tidak pernah masyarakat temui dalam beberapa tahun ini.

Hilangnya ikan di Sungai Mangkatib Desa Tambak Bajai ditenggarai  Pak Yarno karena adanya aktifitas perkebunan sawit. Mereka menganggap, penggunaan pestisida yang besar oleh perusahaan perkebunan sawit menyebabkan pencemaran air sungai dan mengakibatkan ikan mati.

Tapi, sejauh ini, mereka juga tidak pernah menemukan ikan yang mati di sungai. Aku sempat diskusi dengan Pak Yarno  tentang kemungkinan penyebab lainnya. Menurutunya ada kemungkinan penyebab lainnya, yaitu proses penyiapan lahan PLG membuat kanal yang cukup banyak dan besar. Kondisi tersebut menyebabkan ikan yang awanya terkumpul di sungai, sekarang tersebar di banyak kanal. Kemungkinan penyebab lainnya adalah over fishing atau penangkapan berlebihan. Kalau melihat metode penangkapan ikan oleh masyarakat selama belasan tahun menyebabkan berkurangnya ikan di sungai. Bayangkan saja, berton-ton ikan akan terjebak pada beje’ dan telah dilakukan sejak lama. Ikan yang kecil dan besar semuanya diambil. Akibatnya, jumlah ikan dari tahun ketahun berkurang. Bahkan, bila cara menangkap ikan dengan beje ini terus dilakukan kemungkinan hilangnya ikan di desa itu semakin besar. Tapi, ketiga hipotesa ini harus dilakukan penelitian mendalam untuk memastikan penyebabnya.

Kesulitan memperoleh ikan di desa tersebut menjadi latar belakang program PNPM Peduli. Melalui program itu, masyarakat membentuk dua kelompok untuk mengelolah usaha budidaya ikan sistem keramba. Harapannya mereka sederhana, selain untuk kegiatan ekonomi juga menyediakan ikan di kampong mereka. Memang belum panen, tapi harapan telah digantungkan. Tantangan datang satu persatu, mulai dari pakan sampai keaktifan pengurus. Namun, layar telah dikembangkan, kapal harus berlayar, usaha ini akan menjadi pintu masuk program lainnya untuk mengembalikan ikan yang hilang di Tambak Bajai. Saat ini, dinas perikanan setempat sudah berkunjung dan menebar janji. Mereka akan membantu kelompok agar usaha budidaya ikan tersebut berjalan sesuai harapan.  Bkan itu saja, Pak Yarno dan beberapa anggota kelompok akan membuat demplot kolam ikan di belakang rumah. “ Saya sudah siapkan lokasi untuk budidaya ikan, sekaligus akan mengambil bibit dari sungai supaya ikan itu tidak punah.” Aku sungguh berharap rencana dia berhasil agar ikan yang tersisa dapat dilestarikan. “Saya juga akan buat daftar ikan yang pernah ada di desa, Pak.”  Sungguh satu cita-cita yang besar, bravo Pak Yarno! (sevit)